Kamis, 10 November 2016

PENGELOLAAN KELAS MENGACU PADA TEORI PEMBELAJARAN (Untuk memenuhi tugas UTS Dr.Dirgantara Wicaksono, M.Pd)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

DEVY DWIJAYANTI (2014820213)
PENGELOLAAN KELAS MENGACU PADA TEORI PEMBELAJARAN

Abstract

The purpose of this article to find out how classroom management in behavioristic theory, constructivist theory, and humanistic theories. Classroom management is the skill of the teacher to create and maintain an optimal learning conditions and restore it if there is interference in the learning process. Master with all his ability, students of any background and properties of the individual, the curriculum with all its components, and materials and learning resources to its subject and chime meet and interact in class. 


Keyword : Pengelolaan kelas, Teori pembelajaran
Daftar Pustaka : 2 (2016)
















BAB I
PENDAHULUAN

Guru memiliki banyak peranan. Salah satu dari sekian banyak peran yang dimiliki guru adalah guru sebagai pengelola atau manager dalam pembelajaran. Dalam peranannya ini guru memiliki tugas dan kewajiban untuk mengelola pembelajaran dengan baik. Pengelolaan dimulai dari perencanaan, pelaksanaan termasuk juga melakukan evaluasi agar terorganisir dengan baik. Pengelolaan pembelajaran ini akan membawa proses pembelajaran terlaksana dengan lancar yang dapat memudahkan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Tak hanya melaksanakan dan mengelola pembelajaran saja, namun guru juga harus mengelola kelas dan siswa serta segala hal yang diperlukan dalam proses belajar mengajar ataupun segala sesuatu yang mampu mempermudah dan mempengaruhi pembelajaran.
Masalah pengajaran adalah usaha membantu anak didik dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat satuan pembelajaran, penyajian informasi, mengajukan pertanyaan, evaluasi, dan masih banyak lagi. Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya, memberi penguat, mengembangkan hubungan guru dan anak didik, membuat aturan kelompok yang produktif. Masalah pengajaran harus diatasi dengan cara pengajaran, dan masalah pengelola kelas dibatasi dengan cara pengelolaan.
Pengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif.













BAB II
PEMBAHASAN


A.     Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas adalah seni dalam  mengoptimalkan sumber daya kelas demi terciptanya proses pembelajaran berpusat pada siswa yang efektif dan efisien yang banyak menerapkan pembelajaran kooperatif, dan pembelajaran kolaboratif. Pengelolaan kelas pada Pembelajaran Kurikulum 2013  juga diartikan sebagai upaya pendidik untuk menciptakan dan mengendalikan kondisi belajar yang kondusif serta memulihkannya apabila terjadi gangguan atau penyimpangan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.
Pengelolaan kelas yang baik oleh guru menciptakan situasi belajar yang menyenangkan bagi siswa untuk berada di dalam komunitas kelas tersebut. Pengelolaan kelas yang baik memberikan rasa nyaman bagi siswa untuk berada di dalamnya dan melakukan aktifitas-aktifitas pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan menggunakan pendekatan saintifik yang terdiri atas pengalaman-pengalaman belajar yaitu  mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan.

B.     Pengelolaan Kelas Kurikulum 2013 Menurut Standar Proses
1.    Guru menyesuaikan pengaturan tempat duduk peserta didik sesuai dengan tujuan dan karakteristik proses pembelajaran.
2.    Volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik.
3.    Guru wajib menggunakan kata-kata santun, lugas dan mudah dimengerti oleh peserta didik.
4.    Guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik.
5.    Guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, dan keselamatan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran.
6.    Guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
7.    Guru mendorong dan menghargai peserta didik untuk bertanya dan mengemukakan pendapat.
8.    Guru berpakaian sopan, bersih, dan rapi.
9.    Pada tiap awal semester, guru menjelaskan kepada peserta didik silabus mata pelajaran, dan
10.     Guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.

C.     Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus (rangsangan) dan respon (tanggapan). Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan pada tiangkah lakunya.
Menurut teori ini hal yang paling penting adalah input (masukan) yang berupa stimulus dan output (keluaran) yang berupa respon. Menurut teori ini, apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati hanyalah stimulus dan respon. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus) dan apa yang dihasilkan siswa (respon), semuanya harus dapat diamati dan diukur. Teori ini lebih mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadinya perubahan tungkah laku tersebut. Faktor lain yang juga dianggap penting adalah faktor penguatan. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan diitambahkan maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi maka responpun akan dikuatkan. Jadi, penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respon.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik diantaranya:
1)      Thorndike
Menurut thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Dan perubahan tingkah laku merupakan akibat dari kegiatan belajar yang berwujud konkrit yaitu dapat diamati atau berwujud tidak konkrit yaitu tidak dapat diamati. Teori ini juga disebut sebagai aliran koneksionisme (connectinism).
2)      Watson
Menurut Watson, belajar merpakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Dengan kata lain, meskipun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam bentuk benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.
3)      Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variable hubangan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Baginya, seperti teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori ini mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh bagian manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis,walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
4)      Edwin Guthrie
Demikian juga Edwin, ia juga menggunakan variabel stimulus dan respon. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana Clark Hull. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut.
5)      Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih komprehensif. Menurutnya, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya.
Inti dari teori belajar behavioristik, adalah  :
1)      Belajar adalah perubahan tingkah laku. 
2)      Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. 
3)      Pentingnya masukan atau input  yang berupa stimulus dan keluaran yang berupa respon.
4)      Sesuatu yang terjadi  diantara stimulus dan respon tidak dianggap penting  sebab tidak bisa diukur dan diamati. 
5)      Yang bisa di amati dan diukur hanya stimulus dan respon. 
6)      Penguatan adalah faktor penting dalam belajar. 
7)      Bila penguatan ditambah maka respon akan semakin kuat , demikian juga jika respon dikurangi maka respon juga menguat. 
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas menurut teori behavioristik adalah pengelolaan kelas yang menekankan pada peran vital pembelajar dan arahan atau instruksi dari pembelajar. Hal ini didasarkan atas keyakinan bahwa perilaku menyimpang merupakan hasil dari kegagalan untuk mempelajari perilaku yang diinginkan. Pengelolaan ini menganjurkan adanya atau diberlakukannya konskwensi-konsekwensi perilaku dalam usaha meminimalisasi masalah di kelas, disamping menggunakan perilaku-perilaku tersebut untuk mengoreksi jika perilaku menyimpang tersebut diulang atau terjadi kembali.
Pada modifikasi perilaku yang dianggap sebagai aspek korektif. Dengan demikian, jika ada perilaku menyimpang maka perlu dilakukan koreksi dengan tujuan untuk meminimalisasi atau mengubah perilaku tersebut. Dalam pengelolaan kelas dijalankan secara kaku dan berstandar, jika ada pembelajar melakukan kesalahan seperti; berbicara keras, atau lari-lari, maka mereka akan segera bertindak dengan hukuman melalui pengurangan point-point yang didapatkan sebelumnya. Penggunaan reinforcement (penguatan) juga telah diberikan, dengan tujuan untuk meminimalisir dan mengontrol perilaku menyimpang para pembelajar.

D.     Teori Konstruktivistik
Konstruktivistik merupakan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman atau dengan kata lain teori ini memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Dalam proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek untuk aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah.
Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut:
1)      Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
2)      Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
3)      Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman suatu konsep secara lengkap.
4)      Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
5)      Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Teori ini lebih menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap saja tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses ini keaktifan seseorang sangat menentukan perrkembangan pengetahuannya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa berkaitan dengan pengelolaan kelas, pembelajar yang konstruktivistik akan mengedepankan keragaman melalui penataan lingkungan belajar yang bebas tata pengelolaan lingkungan belajar (pengelolaan kelas). Prinsip utama yang perlu dilakukan pembelajar dalam mengelola lingkungan belajar adalah pandangan sekeliling, dan kaitan mata-otak. Pengelolaan kelas yang baik adalah yang melibatkan barbagai modalitas belajar, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik.
Dalam pengelolaan kelas menurut teori konstruktivistik guru dituntut untuk kreatif dalam penataan kelas. Lingkungan belajar yang kondusif merupakan sasaran pengelolaan kelas yang utama ingin dicapai. Dengan lingkungan belajar yang kondusif proses belajar dan mengajar dapat berlangsung dengan efektif. Lingkungan belajar yang kondusif ini tidak dapat diciptakan secara sepihak baik dari guru saja maupun dari siswa saja. Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran juga harus dibuat sebaik mungkin. Dengan pemilihan strategi, metode, teknik, media pembelajaran sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Guru harus mampu membuat pembelajaran lebih bermakna untuk peserta didik, dengan menggali potensi peserta didik. Dan pembelajaran harus bersifat student centered atau berpusat pada siswa, dimana dapat mendorong peserta didik untuk memiliki pengetahuan yang lebih banyak, mendorong terjadinya pembelajaran secara aktif, mengarahkan peserta didik untuk mengenali dan menggunakan berbagai macam gaya belajar, memberi kesempatan untuk pengembangan berbagai strategi assessment. Karena belajar merupakan suatu proses pemaknaan atau pembentukan pengetahuan dari pengalaman secara konkrit. Guru hanya berperan sebagai fasilitator artinya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan proses pengkonstruksian pengetahuan agar berjalan lancar.
Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya pada siswa tetapi guru dituntut untuk memahami jalan pikiran atau cara pandang setiap siswa dalam belajar. Agar proses belajar maksimal, sarana sangat dibutuhkan siswa untuk mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh. Tetapi jika didalam sekolah tersebut sarana tidak memadai, guru lah yang harus berperan aktif dalam membuat segala sesuatu nya untuk memaksimalkan proses pembelajaran. Evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dalam belajar karena menekankan pada keterampilan proses baik individu maupun kelompok. Dengan cara ini, guru dapat mengetahui seberapa besar suatu pengetahuan telah dipahami oleh peserta didik.

E.     Teori Humanistik
Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri serta lebih banyak berbiacara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal.
Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak si belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimilikinya. Teori humanistic berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar, secara optimal.
Teori humanistik bersifat sangat eklektik yaitu memanfaatkan atau merangkumkan berbagai teori belajar dengan tujuan untuk memanusiakan manusia dan mencapai tujuan yang diinginkan karena tidak dapat disangkal bahwa setiap teori mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik sering dikritik karena sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis dan dianggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang lebih konkret dan praktis. Namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakikat kejiwaan manusia.
Dalam praktiknya teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Jadi, pengelolaan kelas dalam teori humanistik adalah  pengelolaan kelas menekankan pada faktor keunikan setiap individu siswa. Orientasi pendekatannya lebih condong ke student-centered daripada teacher-centered. Pada teori ini, intervensi pembelajar sangat dikurangi, bahkan lebih menitikberatkan pada partisipasi aktif belajar dalam proses pembelajaran di kelas, sistem supervise, dan pengembangan internal individu pebelajar. Dalam praktiknya teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, guru juga harus memahami metode atau strategi yang dapat membuat pembelajaran lebih ke student centered. Strategi, metode, teknik, media pembelajaran sebaiknya dirancang atau dipilih yang sesuai dengan kebutuhan siswa, dan guru juga harus kreatif dalam membuat rancangan pembelajaran agar pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang inovatif dapat membuat peserta didik aktif mengikuti pelajaran. Contoh pada pelajaran IPA, siswa diajak keluar kelas untuk melihat langsung tumbuhan disekitar sekolah, jadi siswa mudah memahami materi yang dijelaskan oleh guru. Di materi yang lain juga sebaiknya guru dapat memberi contoh secara langsung melalui gambar, benda nyata, video, atau media lain yang dapat membuat siswa mudah memahami materi yang dipelajarinya.









































BAB III
KESIMPULAN

Pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas bertujuan menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan social, emosional, dan intelektual dalam kelas. Agar dapat mengelola kelas secara efektif perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu,yang dilengkapi oleh tugas-tugas yang diarahkan oleh guru (2) Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk satu pada waktu tertentu, tetapi bagi semua anak atau kelompok (3) Kelompok mempunyai perilaku sendiri yang berbeda dengan perilaku-perilaku masing-masing individu dalam kelompok itu (4) Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya kepada anggota-anggota (5) Praktik guru waktu belajar cendrung terpusat pada hubungan guru dan siswa (6) Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok ditentukan oleh cara mengelola, baik untuk mereka yang tertarik pada sekolah maupun bagi mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.





































DAFTAR PUSTAKA


https://belajarpedagogi.wordpress.com/pengelolaan-kelas/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar