UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
DEVY
DWIJAYANTI (2014820213)
PENGELOLAAN
KELAS MENGACU PADA TEORI PEMBELAJARAN
Abstract
The purpose of this
article to find out how classroom management in behavioristic theory,
constructivist theory, and humanistic theories. Classroom management is the
skill of the teacher to create and maintain an optimal learning conditions and
restore it if there is interference in the learning process. Master with all
his ability, students of any background and properties of the individual, the
curriculum with all its components, and materials and learning resources to its
subject and chime meet and interact in class.
Keyword : Pengelolaan kelas, Teori pembelajaran
Daftar Pustaka : 2 (2016)
BAB I
PENDAHULUAN
Guru memiliki banyak peranan. Salah satu dari sekian
banyak peran yang dimiliki guru adalah guru sebagai pengelola atau manager
dalam pembelajaran. Dalam peranannya ini guru memiliki tugas dan kewajiban
untuk mengelola pembelajaran dengan baik. Pengelolaan dimulai dari perencanaan,
pelaksanaan termasuk juga melakukan evaluasi agar terorganisir dengan baik.
Pengelolaan pembelajaran ini akan membawa proses pembelajaran terlaksana dengan
lancar yang dapat memudahkan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Tak hanya
melaksanakan dan mengelola pembelajaran saja, namun guru juga harus mengelola
kelas dan siswa serta segala hal yang diperlukan dalam proses belajar mengajar
ataupun segala sesuatu yang mampu mempermudah dan mempengaruhi pembelajaran.
Masalah pengajaran adalah usaha membantu anak didik
dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat
satuan pembelajaran, penyajian informasi, mengajukan pertanyaan, evaluasi, dan
masih banyak lagi. Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk menciptakan
dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar
dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya, memberi penguat, mengembangkan
hubungan guru dan anak didik, membuat aturan kelompok yang produktif. Masalah
pengajaran harus diatasi dengan cara pengajaran, dan masalah pengelola kelas
dibatasi dengan cara pengelolaan.
Pengelola kelas adalah keterampilan guru untuk
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya
bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Masalah pengelolaan
berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian
rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien
demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan demikian pengelolaan kelas yang
efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengelolaan
Kelas
Pengelolaan
kelas adalah seni dalam mengoptimalkan sumber daya kelas demi
terciptanya proses pembelajaran berpusat pada siswa yang efektif dan efisien yang banyak menerapkan
pembelajaran kooperatif, dan pembelajaran kolaboratif. Pengelolaan kelas pada Pembelajaran Kurikulum 2013
juga diartikan sebagai upaya pendidik untuk menciptakan dan mengendalikan
kondisi belajar yang kondusif serta memulihkannya apabila terjadi gangguan atau
penyimpangan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.
Pengelolaan
kelas yang baik oleh guru menciptakan situasi belajar yang menyenangkan bagi
siswa untuk berada di dalam komunitas kelas tersebut. Pengelolaan kelas yang
baik memberikan rasa nyaman bagi siswa untuk berada di dalamnya dan
melakukan aktifitas-aktifitas pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan menggunakan pendekatan saintifik yang terdiri
atas pengalaman-pengalaman belajar yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
mengasosiasi dan mengkomunikasikan.
B. Pengelolaan Kelas Kurikulum 2013 Menurut Standar Proses
1. Guru menyesuaikan pengaturan tempat duduk peserta
didik sesuai dengan tujuan dan karakteristik proses pembelajaran.
2. Volume dan intonasi suara guru dalam proses
pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik.
3. Guru wajib menggunakan kata-kata santun, lugas dan
mudah dimengerti oleh peserta didik.
4. Guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan
dan kemampuan belajar peserta didik.
5. Guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan,
dan keselamatan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran.
6. Guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap
respons dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
7. Guru mendorong dan menghargai peserta didik untuk
bertanya dan mengemukakan pendapat.
8. Guru berpakaian sopan, bersih, dan rapi.
9. Pada tiap awal semester, guru menjelaskan kepada peserta
didik silabus mata pelajaran, dan
10. Guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai
dengan waktu yang dijadwalkan.
C. Teori
Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan
tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus (rangsangan) dan
respon (tanggapan). Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang
dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang
baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap
telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan pada tiangkah
lakunya.
Menurut teori ini hal yang paling penting adalah input
(masukan) yang berupa stimulus dan output (keluaran) yang berupa respon.
Menurut teori ini, apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak
penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang
dapat diamati hanyalah stimulus dan respon. Oleh sebab itu, apa saja yang
diberikan guru (stimulus) dan apa yang dihasilkan siswa (respon), semuanya
harus dapat diamati dan diukur. Teori ini lebih mengutamakan pengukuran, sebab
pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadinya perubahan
tungkah laku tersebut. Faktor lain yang juga dianggap penting adalah faktor
penguatan. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila
penguatan diitambahkan maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila
penguatan dikurangi maka responpun akan dikuatkan. Jadi, penguatan merupakan
suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan
(dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respon.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik diantaranya:
1) Thorndike
Menurut thorndike, belajar merupakan
proses interaksi antara stimulus dan respon. Dan perubahan tingkah laku
merupakan akibat dari kegiatan belajar yang berwujud konkrit yaitu dapat
diamati atau berwujud tidak konkrit yaitu tidak dapat diamati. Teori ini juga
disebut sebagai aliran koneksionisme (connectinism).
2) Watson
Menurut Watson, belajar merpakan
proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang
dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur.
Dengan kata lain, meskipun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam
diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut
sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa
perubahan-perubahan mental dalam bentuk benak siswa itu penting, namun semua
itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena
tidak dapat diamati.
3) Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variable
hubangan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang
belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin.
Baginya, seperti teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama
untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori ini mengatakan
bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan
menempati posisi sentral dalam seluruh bagian manusia, sehingga stimulus dalam
belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis,walaupun respon
yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
4) Edwin Guthrie
Demikian juga Edwin, ia juga
menggunakan variabel stimulus dan respon. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus
tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana
Clark Hull. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat
dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan
dengan respon tersebut.
5) Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh
Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan
oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara
sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih
komprehensif. Menurutnya, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi
melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan
tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya.
Inti dari teori belajar behavioristik,
adalah :
1)
Belajar adalah
perubahan tingkah laku.
2)
Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan
tingkah laku.
3)
Pentingnya
masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran yang berupa respon.
4)
Sesuatu yang
terjadi diantara stimulus dan respon tidak dianggap penting sebab
tidak bisa diukur dan diamati.
5)
Yang bisa di
amati dan diukur hanya stimulus dan respon.
6)
Penguatan
adalah faktor penting dalam belajar.
7)
Bila
penguatan ditambah maka respon akan semakin kuat , demikian juga jika respon
dikurangi maka respon juga menguat.
Jadi, dapat
disimpulkan bahwa pengelolaan kelas menurut teori behavioristik adalah pengelolaan
kelas yang menekankan pada peran vital pembelajar dan arahan atau instruksi
dari pembelajar. Hal ini didasarkan atas keyakinan bahwa perilaku menyimpang
merupakan hasil dari kegagalan untuk mempelajari perilaku yang diinginkan.
Pengelolaan ini menganjurkan adanya atau diberlakukannya konskwensi-konsekwensi
perilaku dalam usaha meminimalisasi masalah di kelas, disamping menggunakan
perilaku-perilaku tersebut untuk mengoreksi jika perilaku menyimpang tersebut
diulang atau terjadi kembali.
Pada
modifikasi perilaku yang dianggap sebagai aspek korektif. Dengan demikian, jika
ada perilaku menyimpang maka perlu dilakukan koreksi dengan tujuan untuk
meminimalisasi atau mengubah perilaku tersebut. Dalam pengelolaan kelas
dijalankan secara kaku dan berstandar, jika ada pembelajar melakukan kesalahan
seperti; berbicara keras, atau lari-lari, maka mereka akan segera bertindak
dengan hukuman melalui pengurangan point-point yang didapatkan sebelumnya. Penggunaan reinforcement (penguatan)
juga telah diberikan, dengan tujuan untuk meminimalisir dan mengontrol perilaku
menyimpang para pembelajar.
D. Teori Konstruktivistik
Konstruktivistik merupakan metode pembelajaran yang
lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta
upaya dalam mengkonstruksi pengalaman atau dengan kata lain teori ini
memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi,
pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan
dirinya sendiri. Dalam proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, untuk berfikir tentang
pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik
memandang subyek untuk aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam
interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek
menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh
realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek
itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan
berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah.
Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut:
1)
Adanya
motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
2)
Mengembangkan
kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
3)
Membantu
siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman suatu konsep secara lengkap.
4)
Mengembangkan
kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
5)
Lebih menekankan
pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Hakikat
pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng mengatakan
bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan
tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman
konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar
berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna
serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki
pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan
perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Teori ini
lebih menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam, pengetahuan
sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif
membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap saja tidak akan berkembang
pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna
untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai.
Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus
diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan
sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus.
Dalam proses ini keaktifan seseorang sangat menentukan perrkembangan
pengetahuannya.
Jadi, dapat
disimpulkan bahwa berkaitan
dengan pengelolaan kelas, pembelajar yang konstruktivistik akan mengedepankan
keragaman melalui penataan lingkungan belajar yang bebas tata pengelolaan
lingkungan belajar (pengelolaan kelas). Prinsip utama yang perlu dilakukan
pembelajar dalam mengelola lingkungan belajar adalah pandangan sekeliling, dan
kaitan mata-otak. Pengelolaan kelas yang baik adalah yang melibatkan barbagai
modalitas belajar, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik.
Dalam
pengelolaan kelas menurut teori konstruktivistik guru dituntut untuk kreatif
dalam penataan kelas. Lingkungan belajar yang
kondusif merupakan sasaran pengelolaan kelas yang utama ingin dicapai. Dengan
lingkungan belajar yang kondusif proses belajar dan mengajar dapat berlangsung
dengan efektif. Lingkungan belajar yang kondusif ini tidak dapat diciptakan
secara sepihak baik dari guru saja maupun dari siswa saja. Dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran juga harus dibuat sebaik mungkin. Dengan pemilihan strategi,
metode, teknik, media pembelajaran sangat berpengaruh terhadap proses
pembelajaran. Guru harus mampu membuat pembelajaran lebih bermakna untuk
peserta didik, dengan menggali potensi peserta didik. Dan pembelajaran harus
bersifat student centered atau berpusat pada siswa, dimana dapat mendorong peserta didik untuk memiliki pengetahuan yang
lebih banyak, mendorong terjadinya pembelajaran secara aktif, mengarahkan peserta didik untuk mengenali dan menggunakan
berbagai macam gaya belajar, memberi kesempatan untuk pengembangan berbagai
strategi assessment. Karena belajar merupakan suatu proses pemaknaan
atau pembentukan pengetahuan dari pengalaman secara konkrit. Guru hanya
berperan sebagai fasilitator artinya membantu siswa untuk membentuk
pengetahuannya sendiri dan proses pengkonstruksian pengetahuan agar berjalan
lancar.
Guru tidak
mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya pada siswa tetapi guru dituntut
untuk memahami jalan pikiran atau cara pandang setiap siswa dalam belajar. Agar
proses belajar maksimal, sarana sangat dibutuhkan siswa untuk mengembangkan
pengetahuan yang telah diperoleh. Tetapi jika didalam sekolah tersebut sarana
tidak memadai, guru lah yang harus berperan aktif dalam membuat segala sesuatu
nya untuk memaksimalkan proses pembelajaran. Evaluasi merupakan bagian yang
sangat penting dalam belajar karena menekankan pada keterampilan proses baik
individu maupun kelompok. Dengan cara ini, guru dapat mengetahui seberapa besar
suatu pengetahuan telah dipahami oleh peserta didik.
E. Teori
Humanistik
Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai
dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab
itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang
kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian
psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari
dari pada proses belajar itu sendiri serta lebih banyak berbiacara tentang
konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta
tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal.
Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat
penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak
si belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam
struktur kognitif yang telah dimilikinya. Teori humanistic berpendapat bahwa
teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan
manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri
orang yang belajar, secara optimal.
Teori humanistik bersifat sangat eklektik yaitu
memanfaatkan atau merangkumkan berbagai teori belajar dengan tujuan untuk
memanusiakan manusia dan mencapai tujuan yang diinginkan karena tidak dapat
disangkal bahwa setiap teori mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik
dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya
pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan
dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik sering dikritik
karena sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis dan dianggap lebih
dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada
bidang pendidikan, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang
lebih konkret dan praktis. Namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide,
konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat
membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakikat kejiwaan manusia.
Dalam praktiknya teori ini cenderung mengarahkan siswa
untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan
keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Jadi, pengelolaan kelas dalam teori humanistik
adalah pengelolaan kelas menekankan pada
faktor keunikan setiap individu siswa. Orientasi pendekatannya lebih condong ke
student-centered daripada teacher-centered. Pada teori ini, intervensi
pembelajar sangat dikurangi, bahkan lebih menitikberatkan pada partisipasi
aktif belajar dalam proses pembelajaran di kelas, sistem supervise, dan
pengembangan internal individu pebelajar. Dalam praktiknya teori ini cenderung
mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta
membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, guru
juga harus memahami metode atau strategi yang dapat membuat pembelajaran lebih
ke student centered. Strategi, metode, teknik, media pembelajaran sebaiknya
dirancang atau dipilih yang sesuai dengan kebutuhan siswa, dan guru juga harus
kreatif dalam membuat rancangan pembelajaran agar pembelajaran lebih bermakna
dan menyenangkan bagi siswa. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang
inovatif dapat membuat peserta didik aktif mengikuti pelajaran. Contoh pada
pelajaran IPA, siswa diajak keluar kelas untuk melihat langsung tumbuhan
disekitar sekolah, jadi siswa mudah memahami materi yang dijelaskan oleh guru.
Di materi yang lain juga sebaiknya guru dapat memberi contoh secara langsung
melalui gambar, benda nyata, video, atau media lain yang dapat membuat siswa
mudah memahami materi yang dipelajarinya.
BAB III
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan kelas
untuk kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas bertujuan menyediakan fasilitas
bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan social, emosional,
dan intelektual dalam kelas. Agar dapat mengelola kelas secara efektif perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Kelas adalah kelompok kerja yang
diorganisasi untuk tujuan tertentu,yang dilengkapi oleh tugas-tugas yang
diarahkan oleh guru (2) Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk satu pada
waktu tertentu, tetapi bagi semua anak atau kelompok (3) Kelompok mempunyai
perilaku sendiri yang berbeda dengan perilaku-perilaku masing-masing individu
dalam kelompok itu (4) Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya kepada
anggota-anggota (5) Praktik guru waktu belajar cendrung terpusat pada hubungan
guru dan siswa (6) Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok
ditentukan oleh cara mengelola, baik untuk mereka yang tertarik pada sekolah
maupun bagi mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.
DAFTAR PUSTAKA
https://belajarpedagogi.wordpress.com/pengelolaan-kelas/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar